Meningkatkan sikap selektif dan mempertahankan budaya lokal sehingga dapat bertahan di era globalisasi


Pengaruh globalisasi saat ini sudah tidak dapat terbendung lagi. Globalisasi merupakan pertukaran budaya suatu negara ke negara lain yang mempengaruhi dan mengubah sikap masyarakat negara tersebut. Globalisasi dapat terjadi melalui transportasi atau komunikasi, dan yang saat ini terjadi pengaruh globalisasi berkembang pesat melalui internet. Sehingga masyarakat negara memerlukan sikap selektif agar tidak terjerumus dalam jurang globalisasi. Dengan adanya sikap selektif, masyarakat dapat menyaring pengaruh globalisasi yang akan memberikan dampak positif atau bahkan dampak negatif. Bagaimana kondisi saat ini terutama remaja Indonesia terhadap budayanya sendiri?. Menurut Firman narasumber yang berprofesi sebagai ketua Karang Taruna Soka menuturkan bahwa “Budaya Indonesia khususnya remaja sudah sangat memprihatinkan, contoh kecil yang nampak di depan mata saat ini yaitu remaja kecanduan gadget. Sebenarnya kita dipermudah namun saja banyak sekali dampak negatif yang ditimbulkan bagi budaya Indonesia saat ini”. Proses globalisasi dan modernisasi zaman lambat laun mengakibatkan nilai-nilai kebudayaan yang ada terkikis bahkan tersisihkan. Akibatnya banyak kebudayaan yang tidak lagi “dikenali” oleh pemuda-pemudi karena kurangnya upaya pelestarian.

Tergesernya budaya-budaya lokal oleh banyaknya budaya Barat dan Korea yang masuk ke masyarakat mengubah karakter, perilaku, dan kearifan lokal yang dimiliki bangsa ini. Remaja lebih suka menghafal tokoh dan lagu-lagu korea dibandingkan dengan menghafal tokoh pahlawan dan lagu daerah di Indonesia. Sebagian dari mereka sudah mengganggap bahwa kebudayaan sendiri sudah kuno dan lama tidak mengikuti perkembangan zaman yang menimbulkan lunturnya rasa cinta terhadap kebudayaan lokal. “Faktor utama yang membuat para remaja sangat tergila-gila dengan budaya korea yaitu dari segi penampilan, wajah tampan dan cantik yang mayoritas operasi plastik dengan pakaian masa kini’ ujar Firman. Budaya Korea telah mengubah cara penampilan dan gaya remaja di Indonesia seperti dipotong dan diberi warna layaknya artis Korea. Mereka rela mengeluarkan dana yang tidak sedikit hanya untuk berpenampilan. Hal ini sangat memprihatinkan, lambat laun pecinta budaya tradisional menurun. Satu per satu budaya kita diambil dan diakui oleh bangsa lain yang sebenarnya merupakan warisan nenek moyang Indonesia. Belajar budaya asing memang dianggap positif namun alangkah tidak baiknya apabila sampai melupakan budaya sendiri. Kita dapat mengambil dampak positif dari budaya asing seperti sikap kedisiplinan yang mereka tanamkan sejak usia dini.

Lalu bagaimana yang harus dilakukan untuk meningkatkan rasa cinta terhadap budaya Indonesia?. Yang perlu dilakkukan yaitu adanya pelajaran seni budaya di bangku SD,SMP, SMA hingga perguruan tinggi agar peserta didik lebih paham tentang budaya Indonesia dan mempunyai motivasi untuk mencintai budayanya sendiri. Pemerintah juga berperan dalam hal ini seperti membatasi tayangan budaya asing terutama yang menyimpang terhadap nilai-nilai Pancasila dan mengganti dengan tayangan seni tradisional. Pementasan berbagai macam kesenian yang dimiliki Indonesia harus ditingkatkan baik dalam negeri maupun di luar negeri. Penambahan kesan menarik yang tidak menyimpang adat pada pertunjukan tradisional juga sangat diperlukan agar semakin bertambah jumlah pecinta tradisional. Setiap elemen bangsa Indonesia harus bisa mengolah kebudayaan asing sesuai watak dan kemampuan sendiri meskipun banyak kebudayaan asing namun kebudayaan lokal tidak luntur bahkan hilang. Karena ketika kebudayaan kita luntur dan hilang, maka Bangsa Indonesia tidak akan kehilangan jati diri dan identitasnya.


Daftar Pustaka
demamfiksi.blogspot.com/2015/06/contoh-essay-tentang-budaya-indonesia.html?m=1

Komentar